Idul Fitri dan Memaafkan Ala Aceh

Oleh: Khairil Miswar

Bireuen, 06 Juli 2015

Tanpa terasa Ramadhan 1436 H telah berlalu dan meninggalkan kita. Satu kebahagiaan besarlah bagi siapa saja yang telah memaksimalkan ibadah di bulan tersebut. Demikian pula sebaliknya, kerugian besarlah bagi siapa saja yang “tanpa acuh” telah membiarkan Ramadhan berlalu pergi, tanpa meninggalkan kesan yang berarti. Bagi siapa saja yang telah “menghargai” Ramadhan dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, tentu hatinya merasa puas, karena umur dan kesehatan yang telah diberikan oleh Allah tidak disia-siakan.

Sebaliknya, bagi mereka (atau bahkan kita) yang pada Ramadhan lalu masih saja terlalaikan dunia, tanpa sedikit pun meluangkan waktu untuk shalat malam, membaca Alquran, atau bahkan (mungkin) berpuasa pun tidak, maka sungguh kita telah melewatkan satu “kesempatan emas” yang hanya akan kita dapati kembali di tahun depan, itu pun jika jatah usia kita masih ada, jika tidak, maka “tamatlah” riwayat.

Sekarang kita telah dihadapkan pada bulan Syawal 1436 H. Setiap 1 Syawal kita merayakan Idul Fitri yang merupakan hari raya bagi kaum muslimin. Sebagaimana disebut oleh para ulama dan berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa hanya ada dua hari raya dalam Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari raya Idul Fitri hanya akan berharga bagi orang-orang yang telah “lulus” dalam “sekolah Ramadhan”. Adapun bagi orang-orang yang “mengabaikan” Ramadhan,  hari raya Idul Fitri tidak lebih hanya sekadar hari “bersenda gurau” saja.

Tradisi Saling Memaafkan    

Sudah menjadi semacam tradisi di lingkungan kaum muslimin, khususnya di Aceh, bahwa hari raya Idul Fitri adalah hari untuk saling maaf-memaafkan. Pada saat hari raya Idul Fitri, kaum muslimin di Aceh biasanya melaksanakan shalat ied di mesjid atau pun di lapangan terbuka. Sebelum berangkat ke mesjid, biasanya seorang istri akan menyalami suaminya sembari meminta maaf yang kemudian diikuti oleh anak-anaknya. Pada saat menuju ke masjid/lapangan, biasanya kita juga saling bersalaman dengan siapa saja yang kita jumpai dalam perjalanan (bagi pejalan kaki) dan juga saling melempar senyum (bagi yang berkendaraan). Selepas shalat, setelah bersalaman dengan sesama jama’ah dan saling memafkan, masyarakat kita biasanya akan berziarah ke kuburan orang tua atau sanak saudara. Meskipun tidak ada anjuran khusus dari agama untuk ziarah pada hari tersebut, namun karena alasan tertentu tradisi ini terus berlangsung hingga saat ini.

Setelah pulang dari shalat, bagi kita yang masih memiliki orangtua, biasanya kita akan mengunjungi orangtua guna bersilaturahim dan meminta kemaafan dari mereka. Bagi kita yang berdomisili jauh dengan orangtua, biasanya akan pulang kampung alias woe u gampoeng. Tradisi woe u gampoeng ini adakalanya dilakukan sebelum lebaran, atau pun pada hari lebaran selepas shalat. Bagi pengantin baru juga dikenal tradisi woe bak tuan (pulang ke rumah mertua).

Pada prinsipnya, tradisi saling bermaafan itu tidak hanya menjadi “monopoli” hari raya, karena Islam mengajarkan kita untuk segera meminta maaf apabila kita berbuat salah, tanpa harus menunggu hari raya tiba. Kita juga dianjurkan untuk bermurah hati dan memaafkan kesalahan saudara-saudara kita agar keharmonisan bisa tetap terjaga. Namun demikian, karena disebabkan oleh berbagai kesibukan, tidak ada salahnya tradisi saling memaafkan di hari raya ini dilestarikan guna menyambung silaturrahim yang telah “renggang”.

Idul Fitri dan Ukhuwah Islamiyah

Di bagian akhir tulisan ini, penulis juga mengajak kita semua untuk terus merajut ukhuwah Islamiyah. Jika selama ini kita telah terjebak dalam ketegangan dan kesalahpahaman, maka sudah sepatutnya momen Idul Fitri kita jadikan sebagai media untuk merajut kembali “benang kusut” antar sesama muslim. Dalam Alquran, Allah telah menegaskan bahwa mukmin itu bersaudara. Demikian pula dalam banyak hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut bahwa muslim itu bagai satu tubuh, jika satu bagian merasa sakit, maka bagian lain juga akan merasakan hal yang sama. Dalam teks yang lain Rasul juga menyebut bahwa muslim itu seperti bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Di hari Idul Fitri ini mari kita hilangkan segala bentuk “permusuhan”, saling dengki dan hasut. Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Post a Comment

0 Comments