Kembali Menjenguk Argentina

Malam ini saya kembali memaksa diri untuk menonton pertandingan Piala Dunia. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bahwa saya hanya ingin melihat Maradona.

Sejak Argentina “tersungkur” beberapa hari lalu, saya memilih untuk boikot nonton Piala Dunia. Bagi saya, tanpa Argentina, pertandingan tersebut menjadi tidak menarik.

Saya melihat Argentina tidak hanya sebagai “Argentina” belaka, tapi Maradona. Bagi saya, Argentina adalah Maradona.

Malam ini, saya mendapatkan informasi bahwa Argentina kembali muncul di lapangan hijau Piala Dunia. Pikiran saya langsung tertuju kepada Maradona. Tanpa membuang waktu, saya pun meluncur ke kedai kopi di kampung.

Tiba di sana, saya kesulitan menemukan kursi kosong. Hampir saja saya tidak kebagian kursi.

Penuh

Di sana, para penonton tampak sesak. Sorak-sorai pun bergemuruh. Semua mata tak berkedip. Mereka benar-benar serius menatap layar, seolah para pemain adalah Pak Cik dan Mak Cik mereka.

Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana jadinya jika tiba-tiba listrik padam. Pasti “caci-maki” terhadap perusahan listrik negara itu akan meledak meletup tak terbendung. Bau “anyir” pun akan meluap melimbah tak tertahan.

Parkir

Saya segera bergabung dalam kerumunan. Setelah mendapatkan kursi, saya pun memesan kopi pancung dan segelas air putih. Pandangan saya ikut tertuju ke layar televisi. Di sana tampak Argentina dan Perancis sedang “menari-nari.” Saya mencoba mengikat pandang pada pemain Argentina.

Saya menaruh harapan agar mereka memenangkan pertarungan malam ini. Maradona…

Post a Comment

0 Comments