Penulis Malas Baca

Di zaman ini, sebagian teman-teman kita (mungkin oknum) terlihat rajin membuat ulasan atau komentar di media sosial dengan narasi yang seolah-olah ilmiah. Komentar dan ulasan semisal itu biasanya disajikan dengan cukup serius sehingga sangat meyakinkan. Bagi pembaca yang tidak kritis tentunya akan menerima saja bulat-bulat informasi yang tersaji rapi tersebut. Tapi, bagi pembaca kritis, ia akan mencoba melakukan verifikasi dengan merujuk pada literatur yang ada.

Uniknya lagi, ulasan-ulasan yang lebih pantas disebut hoax tersebut dibagikan atau bahkan ditulis oleh oknum intelektual sehingga para pembaca pun terpesona. Seperti diketahui, narasi dengan aroma emosional memang cukup efektif untuk memengaruhi pembaca, apalagi pembaca-pembaca “sibuk” yang membaca sepintas lalu. Pembaca model ini biasanya tidak begitu peduli pada data atau fakta dan cenderung membenarkan sesuatu dengan perasaan belaka.

Pertanyaannya kemudian, kenapa ada penulis yang terlihat bersemangat menulis sesuatu yang bertentangan dengan data dan fakta? Setidaknya ada dua jawaban yang bisa disajikan. Pertama, penulis tersebut memang sengaja menyebarkan kebohongan dengan maksud tertentu. Untuk kategori penulis serupa ini tidak akan kita ulas di sini.

Kedua, penulis tersebut malas membaca. Salah satu alasan paling populer untuk melindungi kemalasan ini adalah ketiadaan waktu untuk membaca alias sibuk. Dalam hal ini kesibukan selalu saja menjadi kambing hitam guna mengukuhkan kemalasan yang telah membatu. Akibatnya tulisan-tulisannya pun berisi kebohongan yang ia sendiri tidak sadar bahwa itu adalah kebohongan.

Dengan demikian tidak perlu heran ketika ada oknum kandidat Doktor menulis bahwa Ibn Saud telah memberontak kepada Turki Utsmani pada saat mendirikan Kerajaan Saudi Arabiya. Padahal faktanya pemberontakan itu dilakukan oleh Syarif Husein yang saat itu menjabat sebagai gubernur Imperium Turki di Hijaz.

Ada pula seorang oknum dosen yang menulis bahwa salah satu sebab sesatnya Ibn Taimiyah karena dia membaca Majalah Almanar yang ditulis Rasyid Ridha. Si oknum ini tidak sadar bahwa tulisannya itu hanya akan menjadi lelucon. Bagaimana mungkin Ibn Taimiyah yang meninggal ratusan tahun sebelum kelahiran Rasyid Ridha dapat membaca Almanar?

Demikian pula dengan tulisan yang tersebar di beberapa akun *facebook* bahwa Imam Syafii pernah bertemu dengan Imam Abu Hanifah? Si penulis ini terjebak dalam kemalasan dan tidak terlebih dahulu mengoreksi informasi yang ia sajikan sehingga isinya pun menjadi hoax. Bagaimana mungkin Imam Syafii bisa bertemu dengan Abu Hanifah sementara pada saat Abu Hanifah meninggal, Imam Syafii baru lahir ke dunia?

Dalam kondisi inilah kebohongan terus menyebar dan dikonsumsi secara liar oleh para pembaca yang tidak kritis. Sayangnya si penulis sendiri tidak sadar bahwa ia sedang berbohong atau setidaknya menyebarkan kebohongan.

Post a Comment

0 Comments