Antara Janji Politik dan Money Politik

Kenapa pemilih lebih menyukai money politik daripada janji politik? Sebelum menjawab pertanyaan ini baiknya kita telusuri dulu kenapa pertanyaan semisal ini bisa muncul.

Seperti diketahui, politisi dan janji politik adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Artinya kemunculan janji politik tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan politisi itu sendiri.

Janji politik tidak akan pernah ada tanpa diawali oleh kemunculan politisi di pentas politik. Demikian pula dengan politisi, ia tidak mungkin eksis tanpa melemparkan janji-janji politik ke hadapan publik.

Dalam realitas politik kita di masa lalu, sebagian janji-janji politik yang dilontarkan oknum politisi dapat terpenuhi dengan baik pasca mereka duduk di pentas kekuasaan. Namun demikian, tidak sedikit dari janji-janji politik dari mulut oknum politisi yang berbuih-buih itu kemudian lenyap diterbang angin.

Lenyapnya janji-janji politisi yang terus berulang dari pemilu ke pemilu akhirnya memunculkan kejenuhan di benak publik. Seiring perkembangan waktu, kejenuhan demi kejenuhan ini menjelma menjadi rasa muak yang kemudian melahirkan sikap apatis dari publik.

Akhirnya sebagian publik berasumsi bahwa janji-janji politik dari politisi hanyalah bualan belaka, hanya rayuan dan tipuan untuk menarik simpati demi meraih kursi. Tidak sedikit oknum politisi yang setelah terpilih kemudian merevisi atau mencampakkan janji-janjinya.

Dalam kondisi inilah sebagian masyarakat memilih “berhijrah” dari ketergantungan pada janji politik yang palsu kepada praktik money politik yang lebih konkret. Janji-janji politik akan hilang dan lenyap begitu pemilu usai, sementara uang (money politik) terlihat lebih praktis dan memberi manfaat dalam seketika.

Dalam konteks kekinian, janji-janji politik hanya “sampah” penghibur hati. Janji politik selalu saja terhalang oleh waktu dan kemudian kabur. Sementara uang begitu dekat.

Post a Comment

0 Comments