Martabat Kebinatangan

Berbeda dengan hewan, manusia tidak hanya dibekali nafsu, tapi juga akal budi. Melalui akal budi inilah dia menemukan kemanusiaanya. Tanpa akal budi, dia adalah binatang, meskipun berwajah manusia.

Pada hakikatnya manusia itu saling mencintai, bukan saling bermusuhan. Permusuhan bukan produk akal budi, tapi ia adalah manifestasi dari nafsu amarah. Dari nafsu itu pula muncul kebencian kepada sesama.

Tuhan sebagai satu-satunya penguasa jagat raya juga menurunkan agama kepada manusia. Tidak kepada hewan, sebab hewan tak punya akal budi. Melalui agama itulah Tuhan memperkenalkan kebaikan dan cinta kasih, bukan permusuhan.

Tuhan menciptakan manusia dan menyebarkan mereka ke seluruh benua untuk membangun peradaban di muka bumi. Dan peradaban hanya bisa lahir di tangan manusia, bukan di tangan binatang, sebab binatang tak punya akal budi.

Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang hidup di lintas wilayah, lintas negara dan lintas agama. Tuhan juga menciptakan manusia dengan berbagai rupa dan warna kulit agar mereka saling kenal dan saling kasih, bukan saling serang dan saling bunuh.

Sehitam apa pun kulit manusia dan sepesek apa pun hidungnya, dia tetap saja manusia dan bukan hewan sehingga derajatnya sama di hadapan Tuhan. Dan seputih apa pun kulit manusia dan semancung apa pun hidungnya, dia pun tetap manusia dan tak pernah berubah menjadi malaikat.

Jika ada manusia yang bergembira, bersuka-ria dan tersenyum bangga ketika manusia lain ditindas oleh sebangsanya, maka pada hakikatnya dia sedang memamerkan martabat kebinatangannya. Martabat paling rendah di muka bumi. Yang hewan pun enggan menyandangnya.

Post a Comment

0 Comments