Terror Virus dan Komentator Badut

Sebenarnya penggunaan istilah badut di sini disebabkan oleh ketidakmampuan saya dalam mencari istilah lain yang sepadan. Karena itu terpaksa istilah ini saya gunakan untuk sementara waktu. Jika nantinya saya menemukan istilah lain yang lebih sesuai, maka dengan segera saya ganti agar para badut hakiki yang mulia hati tidak terluka oleh ulah badut-badut majasi nan “berengsek” yang sekarang sedang membiak.

Sebagai pertanggungjawaban istilah penting kiranya dipertegas terkait klasifikasi badut ini. Badut pertama kita namai sebagai badut hakiki yang senantiasa menghibur dan mengajak orang-orang yang larut dalam kedukaan untuk tersenyum. Kepada badut serupa ini kita berikan apresiasi setinggi-tingginya sebab dengan segala daya dan upaya mereka telah berjasa memadamkan luka.

Adapun badut kedua kita namai badut majasi yang selalu saja menabur garam di atas luka. Mereka adalah badut-badut musiman yang hadir ketika luka sedang menganga dan lalu menari-nari di atasnya dengan seribu rentak yang menginjak. Bagi mereka, luka manusia adalah kegembiraan yang mesti dirayakan, asalkan bukan dia yang terluka.

Untuk mendeteksi badut sebangsa ini mudah saja. Media sosial sebagai miniatur dunia telah menyediakan segalanya. Mulai dari doa-doa syahdu yang mengalir tenang sampai sampah-sampah kutukan yang memacetkan kewarasan. Tinggal saja seberapa tangkas kita melempar jala memungut kabar yang melimbah.

Teror virus di Wuhan mungkin bisa menjadi salah satu medium bagi kita untuk mendeteksi eksistensi badut-badut majasi yang berparade riang sembari melontar komentar-komentar jahil. Jika badut hakiki menghibur orang lain tanpa peduli pada luka dirinya, sebaliknya badut majasi (komentator badut) justru menginjak luka orang lain demi menghibur diri.

Ketika korban di Wuhan terus berjatuhan, para komentator badut justru bergembira ria. Segala dalih diajukan; bahwa itu hukuman atas komunisme; karena mengganggu Natuna; soal Uighur; dan kecongkakan Cina. Irama itu terus dimainkan oleh mereka yang gagal merasa.

Kebencian para komentator badut telah melahirkan beragam tafsir sembari mengutip ayat-ayat Tuhan. Padahal solidaritas kemanusiaan juga ajaran Tuhan, tapi mereka lupa.

Uniknya ada pula badut yang memosting mobil Corona sebagai hiburan. Dipikirnya lucu. Bukannya menghibur mereka yang terluka tapi justru berpestapora, seolah musuh besar telah tumbang.

Kalau cuma Xi Jinping yang menjadi korban, mungkin tak jadi soal. Tapi Xi Jinping justru aman-aman saja. Lantas untuk siapa para badut bergembira?

Sumber Foto

Post a Comment

0 Comments