Kritisme di Tengah Pandemi

Di dunia ini, kegiatan kritik mengkritik bukan fenomena baru yang muncul di era Socrates, Plato, Aristoteles, apalagi Archimedes. Tradisi itu tidak lahir karena hebatnya revolusi industri Inggris. Tidak juga disebabkan Renaisanse Eropa. Bukan pula dipicu oleh gagahnya Ottoman di masa lalu. Satu lagi, kritik juga bukan ajaran Amerika.

Tradisi kritik telah menemukan wujudnya di awal-awal penciptaan manusia. Saat itu, ketika Tuhan mengambil keputusan menciptakan Adam sebagai khalifah yang bakal memimpin bumi, saudara tua bangsa kita dari Bani Iblis telah memulai tradisi ini. Dengan segenap keangkuhannya yang kemudian kita warisi, Iblis mengkritik Tuhan ketika ia dan bangsanya diperintah bersujud kepada Adam. Ini adalah kritik paling awal dalam sejarah alam semesta.

Karena begitu dekatnya kita dengan Iblis dan keturunannya, lambat laun tradisi ini juga kita warisi dan lestarikan hingga saat ini dan lalu kita wariskan kepada generasi masa depan.

Lantas, apakah kritik menjadi identik dengan Iblis? Pertanyaan ini sulit dijawab dan demi menjaga keberbedaan kita dengan Iblis baiknya tidak dijawab dan biarlah ia menjadi pertanyaan terbuka sepanjang zaman.

Dalam konteks historis kita memang mewarisi kritik dari Bani Iblis. Lalu Bani Manusia melakukan modifikasi sedemikian rupa sehingga kritik menemukan wujudnya dalam rupa yang lain — sebagai tradisi khas manusia yang dilengkapi akal budi.

Di bumi manusia, kritik adalah alat untuk menjaga keselarasan. Dan kritisme itu sendiri menjadi penanda bagi masih berdenyut dan berdetaknya kewarasan di tengah kegilaan yang membabibuta. Ketika kritik enyah dari panggung dunia, maka seketika itu pula kewarasan pergi menjauh.

Dalam demokrasi, kritik menjadi anak timbangan agar neraca tetap stabil dan tidak berat sebelah. Kritik adalah pemandu demi selarasnya hubungan penguasa dan publik yang terkadang saling membelakangi.

Dalam dunia akademik, kritik juga niscaya demi valitidas dan akurasi segala klaim berlabel ilmiah. Dalam kehidupan sosial, kritik menjadi pengontrol agar kondisi harmonis dapat terwujud.

Demikianlah kritik memainkan perannya dalam sejarah dunia yang panjang.

Namun begitu, terkadang kritik juga menjadi petaka karena ketololan si pelakunya yang menjadikan kritik hanya sebagai mainan, sebagai ajang ketawa-ketiwi, sebagai medium eksistensi dan sebagai “pokoknya kritik.”

Kritik serupa ini adalah kritik destruktif, kritik paling awal yang diperkenalkan Bani Iblis di masa lalu, bukan kritik Bani Manusia yang telah dimodifikasi dan beradab. Karena itu, kritik-kritik semacam ini mestilah dikritisi ulang agar “kritik setan” tak berulang.

Konon baru-baru ini ada sekelompok oknum yang menyebut diri sebagai mahasiswa melakukan kritik atas penyediaan fasilitas bagi tim medis yang menangani korban pandemi. Mereka menyebut fasilitas itu terlalu mewah. Jika kabar ini benar, maka tidak perlu analisis panjang lebar, secara bulat dapat disimpulkan bahwa kritik serupa itu adalah warisan Bani Iblis di masa lalu.

Senang tidak senang, suka tidak suka, dalam kondisi pandemi semacam ini, tim medis adalah pejuang di garis paling depan. Bukan pecundang yang usai konferensi pers lalu selfi-selfi sembari meneguhkan diri sebagai kritikus ulung.

Fasilitas yang didapatkan tim medis, mau dihitung dengan calculator apa pun tidak akan sebanding dengan perjuangan dan risiko yang setiap saat mengancam nyawa mereka. Gugurnya beberapa dokter dan tenaga kesehatan lainnya dengan sendirinya menjadi bukti bagaimana lelahnya mereka merawat dan mengobati korban yang terus bertambah.

Seperti disinggung diawal, agar kritik yang kita lontarkan tidak identik dengan iblis, maka tetaplah menjadi manusia. Terlebih lagi di tengah bencana yang belum jelas kapan akan berakhir.

Menghilangkan kebodohan sampai ke akar-akarnya memang sulit dan bahkan utopis. Tapi setidaknya kebodohan itu mesti dikendalikan agar ia tidak merusak tatanan.

Post a Comment

0 Comments