Cangkul Keramat

Seorang pemuda bertubuh tinggi, berkumis tebal dan berwajah anggun tampak duduk di sepetak ladang berukuran luas. Matanya yang seperti kelereng susu terlihat menatap hamparan ladang yang masih kosong.

Tangan kanannya memegang cangkul berukuran panjang. Di depannya juga terparkir sebuah gerobak dari kayu.

Cangkul di tangan pemuda itu terbuat dari emas. Kononnya cangkul tersebut diperoleh dari sebuah sayembara di kampung.

Dalam aturan sayembara itu, cangkul tersebut harus digunakan untuk meratakan tanah di ladang. Tanah-tanah itu harus dibuat rapi menggunakan cangkul keramat yang sekarang sudah menjadi hak milik si pemuda.

Kepada si pemuda, selain menyerahkan cangkul keramat agar bisa bekerja cepat, juga diberikan beberapa keping koin emas sebagai upah. Pemuda itu beruntung memenangkan sayembara dengan bayaran mahal.

Pixabay.com

Kononnya di ladang itu akan didirikan sebuah bangunan megah. Bangunan tersebut nantinya akan diberikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar ladang.

Tapi si pemuda justru melanggar aturan yang sudah ditetapkan panitia sayembara. Si pemuda bukan meratakan tanah, tapi dia justru mengumpulkan tanah untuk dirinya.

Setiap pagi seiring ayam berkokok, dia terus mencangkul tanah di ladang dan dimasukkannya ke gerobak sampai penuh. Tanah itu dijualnya kepada masyarakat di bagian lembah sebagai timbunan. Dia menjualnya dengan harga mahal.

Akhirnya, ladang bukan berubah menjadi rata dan rapi sebagaimana diharapkan panitia sayembara, tapi justru menjelma sebagai lembah yang kini digenangi air.

Meskipun ladang telah berubah menjadi lembah, dia terus saja mencangkul dan mencangkul tanpa henti.

Akhirnya bangunan megah yang dinanti-nanti masyarakat sekitar ladang tidak pernah berdiri, sebab tanah telah habis dicangkul.

Google.com

Akibat perilaku si pemuda tersebut, akhirnya beberapa masyarakat curiga. Ternyata setelah dilakukan riset, keberanian si pemuda mencangkul tanah untuk dirinya didukung oleh beberapa oknum panitia sayembara.

Post a Comment

0 Comments