Steemit dan "Latahisme"

Tuan dan Puan Steemians…

Tentu bukan pada tempatnya untuk membahas konsep *”latahisme”* di platform ini. Tapi, tidak pula tertutup peluang untuk kita kupas sekadar perlu.

Sebagai penulis bebas plus Steemian merdeka, saya akan mencoba mengurainya sedikit saja. Sebab hal ini juga penting bagi para Steemians.

*Latahisme* adalah sebuah sikap menerima sesuatu secara tiba-tiba dan meninggalkan sesuatu secara tiba-tiba pula.

Ini adalah pengertian paling sederhana. Sengaja saya sederhanakan agar ia tidak memicu kebingungan para Steemians. Sebab saya tidak ingin meninggalkan “najis-najis” defini yang menganggu pemahaman.

Dalam kaitannya dengan media sosial, *latahisme* adalah sikap yang tiba-tiba memuji, dan tiba-tiba mencaci.

Dalam konteks media sosial *”latahisme”* juga sering hinggap di pikiran insan-insan teknologi.

Ketika pertama sekali bersentuhan dengan media sosial tertentu, kita cenderung menyambutnya dengan euforia. Dan anehnya, ketika media sosial yang “lebih baru” muncul, kita pun meninggalkan media sosial lama dan beralih kepada yang lebih baru.

Dulu, bagi sebagian kita, *facebook* adalah media sosial paling hebat yang saban hari kita puja dan puji sebab media ini telah mampu menambah kegembiraan kita di alam maya.

Dalam dua tahun terakhir, ketika Steemit muncul dengan “bayangan” reward, sebagian kita pun memujinya menembus langit.

*Apa ada yang salah?*

Tidak ada yang salah. Sebab teman baru biasanya menghadirkan sesuatu yang baru pula.

“Kecelakaan” baru muncul pada saat kecintaan berlebihan kepada “teman” baru kemudian menutup mata kita untuk melihat “teman” lama.

Sekedar menutup mata mungkin tidak menjadi soal. Tapi, sebagian kita justru mencari-cari kesalahan teman lama hanya karena kita telah dekat dengan teman baru. Ironisnya lagi, kita memuji teman baru sembari mencaci teman lama. Inilah ***latahisme.***

Di Steemit, jika kita cermat memerhatikan, kita akan menemukan beberapa oknum “Steemian latah.”

Dulu dia memuji *facebook.* Ketika dia mengenal Steemit, dia pun memuji Steemit sembari “mencaci” *facebook.* Tapi, celakanya lagi, pada saat dia tidak menemukan “sesuatu” di Steemit, dia pun balik “mencela” Steemit. Dan dengan sedikit “malu,” dia pun mencoba memuji kembali *facebook* yang pernah dicacinya habis-habisan.

Ini adalah mental *latahisme* yang secara mudah bisa kita saksikan di di Steemit. Tindakan ini dilakukan oleh sebagian kecil oknum Steemians yang awalnya berstatus sebagai *Facebooker.*

***Kesimpulannya?***

Latahisme mencintai dengan tiba-tiba, dan membenci dengan tiba-tiba.

***Waspadalah!***

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…

Post a Comment

0 Comments