Para Penipu di Media Sosial

Seorang yang bermental penipu akan selalu dan senantiasa menjadi penipu di mana pun ia berada. Tidak hanya di dunia nyata, di media sosial pun ia menebar tipuan demi tipuan. Mungkin ini adalah salah satu bentuk konsistensinya dalam pentas tipu-menipu.

Seorang penipu ulung memiliki ragam jurus agar tipuannya menjadi menawan, sehingga sasaran tipu pun tertawan tanpa mampu melawan.

Penipu tidak lahir dari komunitas tertentu, tapi ia datang dari rupa-rupa latar belakang. Penipu juga tidak ada kaitannya dengan intelektualitas, sebab ia merasuk dalam setiap tingkat kecerdasan.

Dalam dunia tipu-menipu tidak ada perbedaan antara profesor, pejabat, penjahat atau pun tokoh agama, sebab semuanya berpeluang memainkan peran ini. Semua kita berpotensi menjadi penipu, minimal penipu diri sendiri.

[Google.com](http://google.com)
Di media sosial, gelombang tipu semakin menemukan wujudnya yang baru dan melibatkan para “profesional.” Dengan segenap kegesitan ia meramu ragam peristiwa, kisah, pengakuan, bencana dan segalanya menjadi ramuan mujarab yang semuanya berisi tipu.

Sebagai contoh, seorang pemuda yang pernah ke Turki beberapa hari, setibanya di negeri sendiri, ia membuat pengakuan bahwa Turki sudah sangat Islami seperti masa khilafah. Pengaruh Mustafa Kamal Attaturk sama sekali telah pudar di Turki. Dia menulis informasi ini di media sosial. Bagbudig. Ini adalah penipuan ala media sosial.

[Google.com](http://google.com)
Belum lagi beberapa informasi *hoax* yang tidak hanya disebarkan oleh mereka yang baru mengenal internet, tapi juga oleh intelektual yang menyandang gelar doktor.

Penipuan demi penipuan terus bergentayangan di media sosial. Menyasar siapa pun yang telah bercerai, atau diceraikan akal sehat. Mereka telah menemukan kenikmatan baru di sana dan terus berleha-leha.

Post a Comment

0 Comments