Perlukah Berdebat di Media Sosial?

Mungkin pembahasan tentang media sosial sudah cukup membosankan, menjemukan, atau bahkan memuakkan. Media sosial sendiri memang menghadirkan ketegangan-ketegangan yang tidak perlu.

Pertanyaannya, apakah perlu berdebat di media sosial? Ada dua jawaban; bisa perlu, bisa tidak; tergantung kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Kita bebas memilih.

Sebagian kita mungkin memang suka berdebat, sebagian yang lain mungkin tidak. Ada yang memang mencari-cari alasan untuk berdebat, ada pula yang menghindari perdebatan.

Namun demikian, seperti telah kita singgung di awal, bahwa dalam kondisi tertentu debat itu perlu, dan dalam kondisi lain debat harus ditinggalkan.

Debat itu sendiri adalah diskusi dalam bentuk lain. Ia bisa positif (menguntungkan) dan bisa pula negatif (merugikan), tergantung, kondisi dan tujuan debat itu sendiri.

Jika yang diperdebatkan di media sosial adalah objek yang tidak jelas alias samar-samar, maka debat ini menjadi tidak penting dan hanya membuang waktu. Sebaliknya, jika objek debat memiliki urgensi, maka debat menjadi perlu.

Selanjutnya, dengan siapa kita akan berdebat?

Jika pun ingin berdebat, kita harus terlebih dahulu mengenal lawan debat. Jika lawan kita hanya penyebar hoax, maka meninggalkan debat lebih baik. Sebab melayani orang serupa ini bukan saja membuang waktu, tapi juga akan menceburkan kita dalam kubang “kebodohan.”


[Magnolia Bix](https://www.magnoliabox.com/products/cartoon-about-the-plebiscite-of-8th-may-1870-xir164791)
Sebaliknya, jika lawan debat kita anggap memiliki kompetensi tentang objek yang diperdebatkan, maka menyelesaikan debat adalah pilihan terbaik.

***Kesimpulannya?***
Terkadang kita harus diam dan tidak terlibat dalam debat pada saat berhadapan dengan *parte klo priep.* Dalam kondisi inilah diam menjadi emas.

Sebaliknya, pada saat ada orang-orang “cerdas” yang sengaja menyebarkan kehohongan di media sosial dengan mengandalkan kharismanya sehingga orang lain menjadi terpengaruh, maka dalam kondisi ini meninggalkan debat adalah pilihan terburuk. Dalam kondisi ini, diam justru akan menjadi petaka.

Post a Comment

0 Comments