Caleg Cengeng

Kemarin malam saya menulis status pendek di facebook tentang caleg dan tempat pesta. Saya menyatakan kalau kita lupa nama caleg, kita bisa mencarinya di tempat pesta, sebab di sana banyak papan bunga yang dilengkapi dengan gambar caleg. Terkait fenomena tersebut secara utuh sudah pula saya tulis dengan tajuk Mencari Caleg di Tempat Pesta.

Kembali ke status facebook. Postingan tentang caleg tersebut mendapat komentar dari beberapa orang dengan nada santai. Sebagian sepakat dan sebagian menolak.

Namun di sebalik itu, ada pula komentar dari seseorang yang menanggapi dengan nada keberatan. Katanya kita tidak boleh (menuduh) begitu, sebab ramai caleg yang memang dari dulu suka bersilaturrahim dan berkunjung ke tempat pesta. Komen tersebut langsung saya “tertibkan,” sebab telah keluar dari jalur yang benar.

Saya tidak tahu, apakah komentator itu caleg atau bukan. Tapi, saya menilai komentar semacam itu sebagai wujud dari kecengengan. Sebab itulah harus segera ditertibkan agar tidak menjalar.

Adalah pantang bagi seorang caleg untuk bersikap cengeng dan baper, apalagi sampai mentel. Seorang caleg harus kuat menghadapi ujian dan sindiran dari siapa saja.

Melalui ujian dan sindiran inilah seorang caleg dapat belajar mendengar suara rakyat. Jika sebelum terpilih saja sudah cengeng, bagaimana nantinya jika sudah duduk di parlemen?

Sudah semestinya para caleg belajar mendengar dan belajar menghadapi kritik sedari sekarang. Lagi pula, tidak ada yang berani menjamin bahwa pendengaran mereka masih baik ketika terpilih nantinya. Seperti kita lihat, tidak sedikit oknum DPR yang kehilangan pendengaran setelah pantatnya menyentuh kursi parlemen.

Post a Comment

0 Comments