Orator dan Tepuk Tangan

Pada dasarnya semua manusia merasa senang jika dipuji dan marah jika dikritik. Ini adalah sifat dasar manusia yang tak mungkin disembunyikan, tapi bisa dikendalikan. Orang-orang “bejat” cenderung menampakkan sifat dasar ini karena dia tidak memiliki kekuatan untuk menyembunyikannya dari pandangan orang lain. Dia akan tertawa girang ketika dipuji dan marah mengerang ketika dikritik. Sebaliknya, orang-orang “bijak” akan memilih mengendalikan sifat dasar tersebut sehingga ia tidak terlena ketika dipuji dan tidak pula merana ketika dikritik.

Tulisan ini hanya akan mengulas sosok “bejat” yang hanyut dengan pujian sehingga akalnya lumpuh terbawa emosi. Sosok “bejat” ada di mana saja dan bisa melekat pada siapa saja. Tidak terkecuali oknum orator dan ahli pidato yang dipuja-puji di seantero negeri. Sebagian oknum tukang pidato ini pun sering terjebak dalam euforia dan gemuruh tepuk tangan sehingga ia pun tunduk pada emosi massa.

Bagi sosok orator, panggung adalah istana dan ia sendiri menjadi raja di tengah kerumunan penonton yang bersorak-sorai. Tatapan sejuta mata dari segala arah yang tertuju kepadanya menjadi energi yang akan terus memompa semangatnya sehingga terus berapi-api. Gemuruh tepuk tangan seringkali membuat oknum orator terlena dan hanyut dalam lautan emosi yang tak terbendung.

Akibat puja-puji yang terus bertaburan itu, terkadang ia lelap dalam keangkuhan sehingga menjelmalah ia sebagai sosok “bejat” yang tak segan mencaci-maki siapa saja yang ia kehendaki demi memperturut amarah massa. Semakin riuh sorak-sorai penonton, semakin lantang ia bersuara. Semakin terpukau pendengar semakin meracaulah ia.

Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai adalah godaan terbesar bagi seorang orator. Jika ia tak mampu mengendalikan diri, maka seketika itu pula kewarasan pergi tak kembali…

Post a Comment

0 Comments