Demokrasi Selfie

Demokrasi kita yang semakin liar telah memungkinkan setiap orang untuk bersikap sesuka hati, khususnya dalam memberikan dukungan politik. Dengan hadirnya media sosial, aksi dukung-mendukung ini pun semakin terbuka dan berlangsung liar di dunia maya.

Seperti kita saksikan, saat ini para politisi, baik caleg maupun cagub, cabup, cawalkot atau bahkan capres sekali pun telah menjadikan media sosial sebagai corong kampanye. Kita menyaksikan para politisi tersebut berfoto dan berselfie ria dengan calon-calon pemilih atau tim sukses dan kemudian disebarkan via media sosial.

Sebagian politisi juga berebut agar bisa berselfie dengan tokoh-tokoh agama untuk kemudian dicantumkan dalam kalender dan juga disebarkan di media sosial. Uniknya tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat tersebut juga bersedia berfoto dengan hampir semua politisi sehingga foto mereka pun beredar luas, di mana masing-masing politisi mengklaim tokoh dimaksud sebagai pendukungnya.

Ada keyakinan dari sebagian politisi bahwa penyebaran foto-foto tersebut akan berdampak pada elektabilitasnya dalam pemilu. Percaya atau pun tidak ini adalah keyakinan konyol.

Di era media sosial kita akan sangat mudah mendeteksi betapa tidak efektifnya penyebaran foto-foto tersebut, di mana tokoh tertentu juga terdeteksi ikut berselfie dengan semua politisi sehingga dukungannya juga menjadi kabur.

Melalui media sosial kita juga akan mudah mendeteksi dukungan-dukungan palsu dari para oknum tim sukses. Hari ini seorang tim sukses berfoto dengan caleg A dan menyatakan dukungannya melalui media sosial. Besok Caleg B juga menyebarkan foto di media sosial bersama tim suksesnya, di mana si tim sukses tersebut sebelumnya telah menyatakan mendukung caleg A. Demikian seterusnya.

Beginilah realitis demokrasi kita. Keculasan terus merajalela.

Post a Comment

0 Comments