Opini yang Berubah Menjadi Cerpen

Beberapa hari lalu saya menyiapkan sebuah artikel yang berjudul “Para Penganggur.” Artikel itu rencananya akan dikirim ke rubrik Opini salah satu koran lokal.

Dalam artikel itu saya ingin membahas tentang peran para penganggur yang sering dipandang sinis oleh sebagian orang. Sebagian kalangan menganggap penganggur sebagai pemalas, tidak cakap, tidak produktif dan seterusnya.

Anggapan itu tentunya tidak seluruhnya benar. Artinya tidak selamanya penganggur itu identik dengan pemalas. Ada banyak sekali alasan kenapa mereka harus menganggur. Bisa jadi mereka kekurangan modal, fisik yang lemah atau harus merawat orangtua yang sakit dan seterusnya.

Keberadaan para penganggur juga sering dianggap sebagai ancaman. Artinya, kondisi mereka yang tidak punya pekerjaan dianggap berpotensi melahirkan kejahatan, seperti pencurian, perjudian dan lain-lain. Dengan kata lain, para penganggur selalu saja dipandang negatif.

Padahal, jika kita mau jujur, seburuk apapun seseorang di dunia ini, dia pasti pernah melakukan kebaikan dalam hidupnya, walau kecil sekali pun. Demikian juga dengan penganggur.

Dalam kehidupan sosial, penganggur juga memiliki peran dan kontribusi yang terkadang luput dari perhatian kita. Lihat saja ketika ada orang meninggal di kampung, para penganggurlah yang menggali kubur dan mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Ketika pesta perkawinan digelar, para penganggur pula yang gigih membantu, sementara orang lain yang non penganggur sering terikat dengan pekerjaan mereka.

Demikian seterusnya…

Tapi, sedang asyiknya saya menulis artikel tentang tema tersebut, tiba-tiba pikiran saya pun berbelok. Artikel yang baru beberapa paragraf itu pun saya ubah menjadi cerpen. Dan, cerpen itu terbit pagi tadi di Serambi Indonesia.

Post a Comment

0 Comments