Anak-Anak dan Kedai Kopi

Malam ini saya mengecap kopi di warkop kampung. Seperti biasa, warkop ini penuh, sebab laga Piala Dunia masih berlangsung. Titik pandang semua penonton tampak berkumpul di layar televisi.

Sejak Argentina “pulang kampung,” saya memutuskan untuk tidak lagi menonton Piala Dunia. Ini adalah bentuk kesetiaan saya kepada Argentina. Kesetiaan yang tidak akan pernah goyah.

Saya mencari kursi di bagian pojok warung, tempat nyamuk berpesta pora. Ini adalah tempat paling nyaman, sebab ada “colokan” guna mengantisipasi energi HP jika tiba-tiba sekarat. Di pojok ini saya juga bisa membebaskan diri dari keterpaksaan menonton bola.

Saya memesan kopi *pancung* dengan sedikit gula. Begitu kopi mendarat di meja, dunia pun menjadi terang. Saya segera mengecap secawan cairan hitam pekat itu dengan sebuah sendok kecil.

Pandangan saya lurus ke depan. Di hadapan saya, “segerombolan” anak-anak tampak larut dalam *haha-hihi.* Mereka terlihat asyik dengan *smartphone* masing-masing.

Mereka tidak peduli dengan hiruk-pikuk penonton bola yang geudeubam geudeubum memukul meja ketika bola menyasar gawang.

Rupanya mereka hanya menumpang santai di warkop demi jaringan wifi. Di warkop ini, fasilitas internet disediakan gratis, asalkan kita memesan kopi dan minimal sebungkus kacang.

Segerombol anak-anak remaja tanggung ini memiliki dunianya sendiri. Dunia mereka bukan televisi dan bukan pula bola kaki, tapi smartphone dan jaringan wifi. Di layar kecil itulah perhatian mereka tercurah.

Memang, sejak benda “ajaib” ini ditemukan, dunia semakin kecil dan kian mengecil. Benda kecil itu sudah menjadi “surga” baru bagi mereka. “Surga” yang membuat mereka hanya menyisakan wujud tubuh di warung kopi, tapi jiwa dan pikiran mereka telah terbang menghilang, bersembunyi di “layar kecil.”

Dulu, keberadaan anak-anak di kedai kopi adalah tabu, tapi kini mereka bisa duduk santai tanpa malu. Mereka telah tenggelam dalam dunia baru.

Post a Comment

0 Comments