Menulis di Kedai Kopi

Sebelumnya saya sudah pernah menulis di platform ini dengan tajuk Menulis dalam Keramaian. Kali ini, saya akan menulis tentang “Menulis di Kedai Kopi.” Sepintas ia tampak mirip dengan tulisan sebelumnya, tapi jika dilihat “dua pintas,” maka terdapat beberapa perbedaan.

Tulisan sebelumnya berkisah tentang strategi menulis dalam kondisi ramai di hadapan banyak orang. Pembahasan dalam tulisan tersebut lumayan umum, sebab “keramaian” dimaksud adalah dalam “segala ramai” di sembarang tempat. Sementara tulisan ini terfokus pada menulis di tempat tertentu. Dan tempat dimaksud adalah kedai kopi.

Bagi sebagian kita yang hobi menulis, kedai kopi adalah salah satu tempat yang lumayan nyaman untuk menulis. Disebut nyaman, sebab kita bisa menulis sambil santai singklek gaki sembari menyeruput kopi.

Mungkin ada sebagian penulis yang mencoba membantah, bahwa menulis di rumah juga bisa santai. Memang bisa, tapi kedai kopi menghadirkan kesyahduan tersendiri. Setidaknya inilah yang saya rasakan.

Saya sering menghabiskan sebagian waktu untuk menulis di kedai kopi. Sementara sebagian tulisan lainnya saya kerjakan di rumah dan juga di tempat-tempat lain, di mana saja.

Sepulang dari kerja, biasanya saya segera mendarat di kedai kopi, membuka laptop dan memesan kopi. Selanjutnya, mulailah saya menekan keyboard sesuka hati, menyambung satu huruf dengan huruf lain sehingga ia menemukan wujudnya dalam rangkaian kalimat yang terpahami, setidaknya oleh saya sendiri.

Bagi saya, menulis di kedai kopi memberikan kenikmatan tersendiri. Kebisingan dan hiruk-pikuk kedai kopi terkadang mampu memacu dan merangsang otak untuk berpikir.

Di kedai kopi, saat menulis, kita bisa berganti pandang. Sesekali mata menatap layar laptop dan sesekali pula menembak bebas melirik kian kemari. Pergantian pandang ini sangat membantu mengatasi jenuh mata dalam menulis. Demikian pula dengan gemuruh sorak-sorai di kedai kopi pun mampu menyehatkan otak dari kebekuan pikir. Inilah kenikmatan yang saya rasakan.

Namun demikian, karena kita hidup di bumi manusia, tidak pula kenikmatan itu kekal selalu. Layaknya musim, ia tetap saja datang silih berganti.

Begitu pula dengan kedai kopi, juga menghadirkan dua rasa. Satu waktu ia menghadirkan kenikmatan untuk menulis, dan di waktu yang lain ia justru mampu merusak konsentrasi.

Tidak hanya itu, duduk berlama-lama di kedai kopi dengan tatapan serius ke layar laptop juga dapat memunculkan kecurigaan pengunjung lain. Dipikirnya kita sedang menonton film “Si Unyil” atau sedang keasyikan bermain game. Padahal yang kita lihat hanyalah teks dan teks. Kecurigaan tersebut terbilang wajar, sebab di zaman ini, tidak semua pengguna laptop dapat dikaitkan dengan aktivitas menulis. Bukan tidak mungkin ada sebagian yang memang larut dalam tarian “Si Unyil”

Selain itu, menulis di kedai kopi juga bisa terhenti ketika ada teman yang datang menyapa. Dalam kondisi ini, kita tidak mungkin “cuek bebek” dan “sok sibuk.” Sesibuk apa pun, kita tetap harus menghargai teman dengan cara menunda menulis.

Foto: @jauharialz

Biasanya, ketika ada teman yang datang ke kedai kopi, saya memilih berhenti menulis untuk beberapa saat. Sebab melanjutkan menulis sambil bicara akan membuat teman kita merasa tak dihargai. Nanti, ketika teman telah berlalu pergi, baru kita menulis lagi.

Post a Comment

0 Comments