Kekalahan Kedua Prabowo

Kemarin, 27 Juni 2019, Mahkamah Konstitusi (MK) telah membacakan hasil putusannya terkait gugatan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Dalam putusan itu, MK menyatakan menolak gugatan Prabowo-Sandi.

Secara hukum, keputusan ini semakin menguatkan kedudukan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemenang Pilpres 2019. Dengan kata lain, putusan MK tersebut juga semakin meneguhkan kekalahan Prabowo-Sandi.

Dalam pertarungan politiknya dengan Jokowi, kekalahan kali ini merupakan kekalahan kedua setelah sebelumnya keduanya juga sempat berkontenstasi dalam Pilpres 2014, di mana saat itu Jokowi juga tampil sebagai pemenang.

Dalam kontestasi politik, kekalahan ini adalah hal yang wajar belaka di pentas demokrasi. Namun sebagai “pertarungan” dua anak manusia yang sama-sama memiliki rasa, kekalahan kedua tersebut tentunya sangat menyakitkan bagi Prabowo. Terlebih lagi usaha-usaha “perlawanan” atas hasil hitungan KPU di MK juga gagal total dan tidak sesuai harapan.

Tentu ada rasa kekecewaan mendalam yang dialami Prabowo, apalagi seperti disebut-sebut sejumlah pihak, Prabowo adalah sosok yang punya kontribusi bagi naiknya Jokowi ke pentas nasional yang dimulai dari Pilgub DKI, di mana waktu itu Prabowo menjadi penyokong utama Jokowi yang kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI.

Namun seperti kita lihat, dalam politik memang tidak ada istilah kawan sejati. Meskipun keduanya pernah akrab dalam kontestasi Pilgub DKI, tapi kepentingan masing-masing pihak telah memisahkan mereka menjadi seteru demi meraih kekuasaan.

Namun begitu, kita patut berbangga kepada Prabowo Subianto yang menyatakan menghormati keputusan MK yang sifatnya final dan mengikat. Sikap lapang dada Prabowo juga telah kita lihat pada Pilpres 2014.

Saya pribadi sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya Jokowi kalah. Bersediakah dia menerima kekalahan dengan lapang dada? Bagaimana pula jika Jokowi mengalami dua kali kekalahan seperti dialami Prabowo?

Pertanyaan itu tentunya tidak akan pernah terjawab dan tetap akan menjadi misteri, sebab waktu tak bisa diulang. Lagi pula dalam kontestasi Pilpres 2024, Jokowi tidak mungkin lagi mencalonkan diri.

Terlepas dari semua itu, persaingan antara Jokowi versus Prabowo memuat pelajaran penting yang layak dipetik; bahwa politik tidak mengenal persahabatan dan balas budi. Politik adalah persaingan, perseteruan dan rivalitas abadi demi mewujudkan kepentingan kekuasaan.

Post a Comment

0 Comments