Pengalaman di Pramuka

Setiap anak laki-laki tentunya ingin terlihat gagah di hadapan teman-temannya. Keinginan ini wajar saja jika terjadi di masa kecil. Sikap ini hanya akan menjadi aneh ketika ia bertahan hingga kita dewasa.

Di masa-masa sekolah dulu, salah satu cara tampil gagah adalah bergabung dengan Pramuka. Karena itu ketika masih sekolah di MTsN Matangglumpangdua saya pun mendaftarkan diri sebagai anggota Pramuka.

Di Pramuka kami diajarkan baris berbaris dan sikap disiplin. Selain itu, di Pramuka saya juga bisa memakai seragam plus baret, tali peluit dan ikat pinggang berlambang tunas kelapa. Sebab itulah saya termimpi-mimpi untuk bisa bergabung dengan program ini.

Setiap upacara bendera hari Senin, anak-anak Pramuka selalu tampil di depan untuk mengatur barisan. Biasanya yang menjadi pemimpin upacara juga dari anggota Pramuka. Meskipun saya tidak pernah jadi pemimpin upacara, namun bagi saya pengalaman ini cukup membanggakan di masa sekolah.

Di sana kami juga diajarkan berbagai sandi dengan tiupan peluit dan juga semaphore. Keduanya adalah model komunikasi simbolik yang sering digunakan dalam kegiatan Pramuka. Kami juga diajarkan keterampilan membuat simpul dengan tali.

Kegiatan menarik lainnya yang saya ingat waktu itu adalah merayap di atas tambang dan meluncur dari atas ke bawah dengan bergantung pada tali. Kegiatan ini sangat menegangkan sekaligus menghibur.

Selama tiga tahun di MTsN saya selalu aktif di Pramuka. Saya hampir tidak pernah absen mengikuti latihan yang dilakukan sepulang sekolah. Saya ingat pembina kami saat itu Pak Darmin (almarhum), seorang pegawai pos dan Pak Yacob Hasan, guru olahraga di MTsN. Kami memanggil keduanya dengan sebutan kakak.

Di antara dua pembina itu, Pak Yacob terbilang cukup otoriter. Beliau tidak segan-segan mencambuk siswa yang bolos dengan tali peluit. Demikian pula dengan siswa yang berpakaian tidak rapi, tidak memasukkan baju ke dalam celana, juga akan disebat pakai tali peluit oleh Pak Yacob. Saya pernah beberapa kali kena sebat karena soal pakaian.

Lulus di MTsN, pada 1996 saya melanjutkan sekolah ke MAN Peusangan. Di sekolah ini saya juga bergabung dengan Pramuka.

Berbeda dengan di MTsN yang umumnya dilatih oleh para pembina Pramuka di sekolah dan beberapa pembina senior dari sekolah lain, saat mengikuti Pramuka di MAN Peusangan, kami mulai dilatih oleh polisi dan tentara.

Sewaktu aktif di Pramuka MAN Peusangan saya pernah ikut napak tilas dari perbatasan Bireuen-Takengon menuju Kota Matangglumpangdua. Kami berjalan kaki mulai selepas Isya sampai pagi baru tiba di Matangglumpangdua.

Saat itu beberapa Pramuka putri sempat kesurupan dalam perjalanan dan harus diangkut dengan mobil. Perjalanan kami waktu itu dikawal oleh polisi dan tentara. Sebagian mereka menggunakan truk dan sebagian lainnya ikut jalan kaki bersama kami.

Bagi saya ini adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Beberapa kali saya harus naik truk tentara karena kaki sudah terasa kaku. Setelah beristirahat beberapa saat di truk, saya kembali turun dan berjalan kaki bersama teman-teman.

Saat itu anggota Pramuka di luar MAN Peusangan, khususnya anak-anak Pramuka dari SMA umumnya bergabung dengan Satuan Karya Bhayangkara yang merupakan Pramuka binaan polisi. Selain atribut Pramuka, anggota Saka Bhayangkara ini juga memakai simbol Bhayangkara di bahu yang bertuliskan Polres Aceh Utara. Tentunya mereka cukup bangga dengan itu, apalagi pada saat naik angkutan umum, mata penumpang akan melirik ke arah mereka.

Saya dan teman-teman Pramuka di MAN Peusangan atas arahan pembina di sekolah memutuskan untuk tidak bergabung dengan Saka Bhayangkara karena satuan itu identik dengan SMA. Saat itu saya ingat salah seorang pembina kami mengatakan bahwa tidak lama lagi akan dibentuk Dewan Kerja Ranting (DKR) di Kecamatan Peusangan. Katanya kami akan bergabung ke satuan ini.

Berbeda dengan Saka Bhayangkara yang dibina oleh polisi (Polsek), DKR justru berada di bawah binaan tentara (Koramil). Satu lagi yang membuat kami bangga adalah pakaian DKR yang berbeda dengan Saka Bhayangkara. Saat itu pakaian Saka Bhayangkara adalah pakaian Pramuka biasa yang ditambah dengan simbol Bhayangkara. Di DKR menurut pembina kami, akan diberikan pakaian loreng yang mirip tentara. Karena harapan-harapan inilah saya dan teman-teman lebih suka bergabung dengan DKR daripada Saka Bhayangkara.

Namun konyolnya, sampai saya lulus dari MAN Peusangan pada 1999, DKR yang kami bangga-banggakan itu tak kunjung terbentuk. Akhirnya harapan untuk gagah-gagahan dengan seragam loreng di depan anak Bhayangkara pun kandas.

Pengalaman konyol lainnya adalah soal kamping. Saya selalu terkendala dengan kegiatan ini. Selama di Pramuka, saya hanya bisa kamping di tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah alias di dalam kecamatan seperti di Krueng Pante Lhong.

Selama enam tahun di Pramuka saya tidak pernah kamping jauh-jauh. Saya tidak pernah ikut acara-acara besar seperti Jambore di Jantho atau Bogor. Saat itu saya tidak mendapat izin dari orangtua. Mereka khawatir kalau saya jauh-jauh apalagi dalam waktu yang lama.

Namun begitu, bisa menjadi bagian dari Pramuka saja saya sudah bersyukur. Pengalaman yang selalu terkenang hingga saat ini.

Post a Comment

0 Comments